testis mengecil

Testis Mengecil (Atrofi) atau Hypotrofi Testis Bilateral

Hypotrofi Testis Bilateral Atau Testis Mengecil (Atrofi). Hypotrofi Testis Bilateral – Hormon FSH Tinggi – Varikokel – Testis Mengecil. Hypotrofi Testis merupakan pengurangan ukuran yang disebabkan oleh mengecilnya ukuran sel atau mengecilnya/berkurangnya (kadang-kadang dan biasa disebut atrofi numerik) sel parenkim dalam organ tubuh (Syhrin, 2008). Pengurangan ukuran testis ini akan selaras dengan peningkatan kadar hormon FSH pada pria yang menjadi tanda bahwa fungsi testis telah menurun kinerjanya.


Adapun perjalanannya seperti ini :

  1. Hypotrofi testis bilateral (testis mengecil), efeknya hormon FSH akan naik diatas batas normal yang seharusnya. Hormon FSH tinggi itu sebagai dampak dari fungsi testis menurun. Jika ditarik lebih dalam lagi yaitu adanya kerusakan atau bahkan hilangnya sel sertoli dalam tubulus ditestis. Alur perintahnya (LIHAT GAMBAR DIBAWAH)
  2. Penyebab Hypotrofi Testis atau mengecilnya ukuran testis itu banyak, diantaranya infeksi, cidera, trauma pasca bedah serta varikokel.
Hipotalamus - GnRH - Pituitari - Hormon
Hipotalamus – GnRH – Pituitari – Hormon
Contoh gambar diatas menggambarkan bahwa hipotalamus – GnRH – Pituitari itu letak nya di otak. Kelenjar Pituitari di Otakmensekresikan hormon FSH dan LH untuk disampaikan kepada Sel Sertoli dan Sel Leydig di Testis yang merupakan sel sel penting yang berperan dalam produksi sperma baru (spermatogenesis).
Apa fungsi sel sertoli dan sel leydig di testis?
  • Sel sertoli berfungsi men-supply nutrient pada saat proses pembentukan sperma (spermatogenesis), memproduksi blood testes barier, androgen binding protein, inhibin dan memfagositosis (pengertian memfagositosis di wikipedia.org : menggulung partikel padat dengan membran sel dan membentuk fagosom internal) zat sisaspermatogenesis.
  • Sel leydig berfungsi sebagai penghasil hormon testoteron
Dari pembahasaan perjalanan sistem kerja tubuh dan penjelasan fungsi fungsinya dapat di-analogi-kan seperti ini :

  1. Testis atrofi/mengecil = produksi sperma terhenti
  2. Testis atrofi/mengecil disebabkan fungsi sel sertoli dan atau sel leydig menurun, atau rusak atau hilang.
  3. Fungsi sel sertoli dan atau sel leydig menurun, atau rusak atau hilang akibatnya hormon FSH dan atau LH meningkat/tinggi diatas batas normal. Kenapa meningkat? sebab kedua atau salah satu sel di tubulus yaitu sel sertoli dan atau sel leydig tidak merespon untuk melakukan tugasnya dalam men-supply proses spermatogenesis (produksi sperma). Disitulah terjadi peningkatan atau pemaksaan kelenjar pituitari di otak untuk menambahkan sekresi kadar hormon FSH dan atau LH. Semakin kedua sel tersebut tidak merespon makaakan semakin tinggilah kadar hormon FSH dan atau LH.
  4. Sebab fungsi sel sertoli dan atau sel leydig menurun, atau rusak atau hilang karena apa? banyak ternyata. saya akan mencontohkan dua saja yang memang penyebab ini sering saya temukan dilapangan khususnya indonesia. (1). Infeksi. Infeksi nya dari bakteri dan virus, tentu bakteri dan virus tersebut macam macam, dan rata rata infeksi yang sudah lama atau terjadi bertahun tahun lalu (infeksi bukan baru baru ini) jadi sel sel testis (sertoli dan leydig) sudah terlalu lama digrogoti infeksi virus dan bakteri tersebut. Ini penyumbang utama azoospermia. Prosentase nya dari 10 pasien azoospermia yang saya tangani, 6 orang disebabkan karena sumbatan. (2). Varikokel. Varikokel terjadi karena katup dalam pembuluh darah balik (vena) dalam spermatic cordmenghambat sirkulasi darah yang membawa zat atau sisa metabolisme dari epidedimis dan testis tidak mengalir dengan baik (tidak balik lagi ke jantung). Katup pembuluh darah terganggu bahkan menutup menyebabkan darah mengumpul di jalur tersebut sehingga mengakibatkan pembuluh darah vena pun melebar (membesar). Pembuluh darah vena membesar dan darah menumpuk menyebabkan suhu testis meningkat, sehingga terjadilah penurunan fungsi testis. Semakin menurun fungsinya makan akan semakin menyusut juga ukuran testisnya. Kalau di cek hormon pasti antara FSH atau LH bahkan keduanya bisa hiper atau tinggi diatas normal.
NOL SPERMA / AZOOSPERMIA (AKIBAT LANJUTAN 2) <= ATROFI TESTIS (AKIBAT LANJUTAN 1) <= FSH &/ LH TINGGI (EFEK YANG TERJADI) <= SEL SERTOLI &/ SEL LEYDIG DAMAGE (AKIBAT) <= VARIKOKEL/INFEKSI (PENYEBAB)

“Dari contoh diatas sedikit gambaran saja. Untuk kasus azoospermia dengan FSH Tinggi atau LH Tinggi yang menjadi langkah awal pengobatan bukan menurunkan hormon FSH atau LH yang tinggi tersebut yang menjadi pusat perhatian pengobatan yang akan dilakukan, karena peningkatan hormon tersebut hanyalah akibat bukan penyebab awal terjadinya penyakit. Meningkatkan fungsi penyerapan nutrisi, pola hidup sehat, regenerasi sel sertoli dan leydig bisa dilakukan apabila varikokel dan infeksi tidak ada. Namun jika ditemukan varikokel dan infeksi tentu langkah awal yang di ambil perbaikan varikokel dan pengobatan infeksinya, itu pun tergantung kasus yang dihadapi, tergantung tingkat URGENT nya diamana, itu yang diutamakan.” (oleh : Yudha Nugraha)


ATROFI TESTIS


Secara umum, atrofi dapat terjadi karena faktor berikut :

ATROFI TESTIS

 

  1. Kurangnya suplai oksigen
  2. Hilangnya stimulus atau rangsangan saraf
  3. Hilangnya stimulus atau rangsangan endokrin
  4. Kekurangan nutrisi (defisiensi)
  5. Disuse atau inaktivitas (organ tidak sering digunakan, maka akan mengakibatkan pengecilan organ tersebut).
Mekanisme atrofi secara singkat adalah sebagai berikut :

Secara umum, seluruh perubahan dasar seluler (dalam hal ini merupakan perubahan ke arah atropi) memiliki proses yang sama, yaitu menunjukkan proses kemunduran ukuran sel menjadi lebih kecil. Namun, sel tersebut masih memungkinkan untuk tetap bertahan hidup. Walupun sel yang atrofi mengalami kemunduran fungsi, sel tersebut tidak mati. (Ini Harapan Anda)
Hypotrofi testis bilateral (Atrofi) menunjukkan pengurangan komponen-komponen stutural sel. Sel yang mengalami atropi hanya memiliki mitokondria dengan jumlah yang sedikit, begitu pula dengan komponen yang lain seperti miofilamen dan reticulum endoplasma. Akan tetapi ada peningkatan jumlah vakuola autofagi yang dapat memakan/merusak sel itu sendiri.
Definisi : Mengecilnya ukuran sel atau berkurangnya sel parenkim dalam organ tubuh (Syhrin, 2008).
Etiologi : Disebabkan oleh berbagai faktor tergantung pada jenis atrofi tersebut.
  • Atrofi fisiologis : beberapa organ tubuh dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa perkembangan atau pertumbuhan ( Saleh, 1973).
  • Artrofi patologis : jika alat tubuh tersebut organ tubuh tersebut tidak menghilang ketika sudah mencapai usia tertentu ( Saleh, 1973).
Contoh : Salah satu contoh penyebab hypotrofi testis bilateral atau atrofi adalah kurangnya nutrisi dalam tubuh.
Kekurangan nutrisi yang sebagian besar (nutrisi tersebut) berasal dari protein saat proses sintesis protein pada ribosom. Saat terjadi kekurangan nutrisi maka akan mengakibatkan terganggunya proses sintesis protein yang terjadi di ribosom dalam sel tubuh. Terganggunya proses sintesis protein mengakibatkan ribosom tidak berfungsi pula, saat dirobosom tidak berfungsi maka lama-kelamaan ribosom akan semakin sedikit dan jumlah volume sel semakin sedikit atau bahkan hilang.

 Penyebab Atrofi Testis Bilateral, Kasus Azoospermia
Ketika seseorang mengalami kekurangan nutrisi dalam tubuhnya maka berisiko mengalami komplikasi dari penyakit seperti campak, pneumonia, dan diare lebih tinggi. Lalu dapat terjadi depresi, berisiko hipotermia, imunitas menurun sehingga meningkatkan risiko terjadi infeksi, penyembuhan penyakit dan luka lebih lama serta masalah terhadap kesuburan. Untuk mengetahui seseorang kekurangan gizi dapat diperiksa dengan menghitung indeks massa tubuh, yaitu dengan menghitung berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (dalam meter persegi). Nilai normal pada wanita adalah 19-24, dan pria adalah 20-25. Di bawah nilai tersebut dikatakan kekurangan gizi dan diatas nilai tersebut dikatakan kelebihan gizi.


orkitis-testis-penyebab-atrofi-testis Masalah testis mengecil dikarenakan berbagai hal. Kebanyakan, atrofi testis diawali dengan orkitis yaitu peradangan pada testis yang disebabkan oleh infeksi. Biasanya, infeksi tersebut ditandai dengan gejala pembengkakan testis. Pada orkitis dapat terjadi kerusakan pembuluh darah pada korda spermatic (saluran yang berisi pembuluh darah, persarafan, kelenjar getah bening, dan saluran sperma) yang dapat menyebabkan atrofi testis. Akibatnya, testis tersebut mengalami kegagalan fungsi untuk memproduksi sperma. Sehingga akan terjadi gangguan dalam menghasilkan keturunan yang dalam analisa medis ditandai dengan peningkatan kadar hormon FSH diatas batas normal. Pada kasus atrofi testis umumnya dialami oleh penderita azoospermia.

Pengalaman dalam menangani pasien azoospermia dari tahun 2013 dengan treatment roborantia dengan kombinasi terapi akupuntur infertilitas telah banyak membantu pasien penderita azoospermia untuk dapat memiliki spermatozoa. Silahkan bagi yang hendak konsultasi dan terapi pengobatan azoospermia melampirkan hasil pemeriksaan laboratorium minimal 3 item pemeriksaan (hasil tes sperma, USG Testis dan Cek Hormon) agar memudahkan saya dalam menganalisis penyebab azoospermia Anda dan beberapa kemungkinan-kemungkinan arah treatment yang akan dilakukan. Baiknya Anda konsultasi terlebih dahulu via online ke kontak saya sebab ada beberapa kasus azoospermia yang memang tidak bisa diperbaiki seperti CAVD, Y cromosom microdeleted, dll – agar lebih efisien dalam waktu sebelum Anda jauh-jauh datang ke klinik kami di cirebon.Semoga bermanfaat (Oleh : Yudha Nugraha, Akp)

KONSULTASI & PENGOBATAN

Untuk memudahkan kami dalam melayani konsultasi hypotrofi testis bilateral, gunakan format konsultasi seperti dibawah ini :
Nama :
Usia :
Usia Pernikahan :
Keluhan Azoospermia sejak :
Riwayat Pemeriksaan :
Riwayat Pengobatan :
PHONE / SMS / WhatsApp : 08970329298
Daftar Untuk Kunjungan Ke Klinik Tlp. (0231) 636066

* CATATAN :Layanan konsultasi ini bukan untuk menggantikan pemeriksaan dokter.